Langsung ke konten utama

Agama Sebagai Orang Tua

 Agama Sebagai Orang Tua

Ketika masih kanak-kanak manusia menjadikan orang tua sebagai tempat berlindung, mendapatkan rasa aman, kenyamanan, kehangatan, bombongan, ketenangan, kasih sayang, cinta, penghargaan dan sebagainya. Karena itu anak-anak percaya pada orang tua dan menjadi sumber acuan dan legitimasi anak dalam berperilaku. Sedangkan orang lain yang tidak sama dengan keluarga, kelompok atau sukunya otomatis dinilai salah atau buruk (pseudospesies). Disamping itu orang tua merupakan sesuatu yang Numinous baginya. Suatu perasaan bayi atau anak terhadap orang tua yang bersifat keramat, pandangannya, sentuhannya, senyuman, cara memanggil namanya, dll.
Jika anak mendapat masalah misalnya mengalami rasa takut atau rasa malu, orang tua dijadikan tempatnya berlindung. Ia bersembunyi di balik pakaian ibu atau dibelakang ayahnya. Saat anak tumbuh menjadi orang dewasa ia menciptakan sesuatu atau mencari sesuatu sebagai pelindung, mendapatkan rasa aman, singkatnya memenuhi kebutuhan fisiologis dan psikologisnya. Apabila adanya ancaman atau permasalahan hidup yang muncul seorang anak yang menjadi dewasa merasa rasa malu atau tabu kalau orang tua dijadikan tempat ia berlindung. Oleh karena itu manusia menjadikan agama sebagai tempat ia berlindung atau memenuhi kebutuhannya. Karena di dalam agama terdapat suatu yang transenden yaitu Tuhan. Tuhan seolah-olah dijadikannya sebagai pengganti orang tuanya melalui tokoh-tokoh agama atau pejabat dalam agama. Ketergantungannya pada orang tua dikompensasikan pada agama.
Pada serangkaian tahap perkembangan manusia baik secara fisiologis maupun psikologis akan mengalami tingka laku yang baru dan mengandung kecemasan serta frustasi dalam taraf tertentu. Apabila manusia tidak dapat mengatasinya maka akan terjadi fiksasi dan regresi. Hal itu menghalangi orang dewasa untuk berperilaku mandiri dan akan muncul perilaku infantil atau perilaku kekanak-kanakan. Fiksasi berarti mandek atau terhenti pada tahap perkembangan tertentu. Sedangkan regresi kembali ke tahap perkembangan lebih awal dimana anak mendapatkan tekanan yang berat atau traumatik. Orang dewasa ketika mendapatkan masalah dalam hidupnya misalnya: ekonomi, pekerjaan, kesehatan, keamanan dll. agama dijadikannya sebagai solusi. Misalnya dalam menanggapi isu tentang penerima penghargaan ada beragam tanggapan yang muncul pada sekelompok anak-anak. Anak no. 1 (selanjutnya hanya ditulis angka): " saya yang menang karena ketua kelas". 2: "Saya, saya setiap hari pimpin doa pagi dan membaca renungan". 3: "saya, nilai agama saya sangat baik". 4: "eh, saya yang menang, saya biasa pimpin gerak jalan. Bapak saya pensionan letnan. dari pada dia cuma tukang tibo dan jual bakasang". 5: "Saya yang menang, saya kapten. Kalau bermain bola saya jadi kapten". 6: Saya bisa panjat kelapa, saya yang menang". 7: Dia, ha.ha..ha.., Saya bisa menyanyi, suara saya bagus dan bisa main musik. 8: saya, saya biasa bantu guru pada saat mengurusi kalau ada yang sakit". 9: saya, saya biasa ikut guru membantu fakir miskin dan anak-anak terlantar, anak-anak yang sakit jantung dan Maag, kalau dikagetkan jadi lapar (kalu sekage lapar). 10: saya yang biasa batu guru urus koperasi sekolah. 11: Kamu, saya, saya yang tulis tatatertib sekolah dan mengawasi siapa yang bolos dan mencontek. Saya juga tau siapa anak yang lulus ujian karena menjawab soal hanya spekulasi (jaboting) kalau menjawab soal pilian ganda".
Padahal yang menjadi pemenang adalah orang lain yang berhasil menerapkan prinsip hukum Newton secara sederhana dan memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi. Jadi agama sebagai orang tua dapat menjadi kompensasi atau sublimasi. Siapa yang tahu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal dan Memahami Agama Hindu

  Pindah Agama Perspektif Hukum Hindu ·            ·                     I Kadek Kartika Yase IAHN Tampung Penyang Palangka Raya   Keywords:  Pindah Agama, Hukum Hindu    ABSTRACT Memeluk agama adalah merupakan sebuah pilihan setiap individu manusia yang dilindungi oleh undang-undang. Memeluk agama tertentu dengan cara pindah agama bukan hal yang dibenarkan dan disalahkan juga karena merupakan hak prerogratif seseorang. Fenomena pindah agama bukanlah hal yang tabu lagi. Peristiwa ini cukup sering terjadi di masyarakat, bahkan menimpa umat Hindu sendiri. Sedangkan Hindu tidak mengharapkan bahkan melarang umatnya untuk pindah dari Hindu, baik perempuan lebih lagi laki-laki. Apabila seseorang meninggalkan Hindu sama saja lebih memilih pekerjaan melakukan pekerjaan orang lain dibandingkan melakukan perkerjaan sendiri. Dapat ...

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN OTONOMI PADA REMAJA (bagian pertama)

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN OTONOMI PADA REMAJA Jantje Rasuh ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan otonomi pada remaja. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubunga positif antara konsep diri dan otonomi pada remaja. Penelitian dilakukan pada Sekolah Menengah Atas Tarsisiuus I Jakarta Pusat. Responden adalah seluruh siswa jurusan ilmu Pengetahuan Sosial yang berjumlah 52 orang. Pengambilan data dilakukan dengan metode skala konsep diri ( r it=0,86) dan skala otonomi ( r it=0,80). Pemgujian hipotesis mengunakan teknik analisis korelasi product moment dari Pearson dengan bantuan SPSS for Window versi 11.5. Koefisien korelasi yang diperoleh dalam penelitian ini r xy =0,783;p<0,01. Koefisien determinasinya r xy=0,613). Hal ini berarti terdapat hubungan yang positif antara konsep diri dan otonomi pada remaja. Dengan demikian disarankan remaja perlu berlatih dalam pengambilan keputusan dan belajar mengungkapkan d...

androspermium gamet pembawa perubahan

                                                                  androspermium                                                            gamet pembawa perubahan      Dari analisis badan kromatin pada ginospermium nampak bahwa androspermium merupakan sel mani yang berbeda dengan keadaan sel-sel pada tubuh wanita. Terutama perbedaan yang sangat mencolok pada kromosom kelamin Y.  Maka dari itu androspermium dikatakan sebagai sel mani yang mengandung antigen unik. Antigen ialah suatu subtansi yang berbeda, atau zat yang tidak sesuai dengan zat yang akan menyatu dengannya. Androspermium dapat menyatu dengan sel telur pada saat konsepsi karena 22 kromosom autoso...