PRIMUM VIVERE DEINDE PHILOSOPHARI
Tulisan di bawah ini pernah menjadi konten FB saya.
PRIMUM
VIVERE, DEINDE PHILOSOPHARI (pertama-tama bertahan hidup, baru kemudian
berfilsafat tentang bertahan hidup), Frankl, V. dalam Koeswara E.,1992.
Keberadaan yang memutuskan (Karl Jaspers, 1883-1969). Dia yang mengetahui untuk
apa dia hidup, akan sanggup mengatasi hampir semua yang terjadi atas dirinya
(Friedrich Nietzsche, 1844-1900). Meskipun kita tunduk pada kondisi-kondisi
dari luar yang mengpengaruhi kehidupan kita, namun kita bebas memilih reaksi
kita terhadap kondisi-kondisi itu (Frankl, dalam
Schultz, D., 1991). Orang yang memiliki rasa efektifitas diri bangkit kembali
dari kegagalan. Mereka mendekati segala sesuatunya dengan melihat bagaimana
menghadapinya, dan bukannya mencemaskan apa jadinya nanti bila keliru (Bandura,
A. dalam Stoltz, P.G.,2000). Hiduplah seolah-olah anda hidup untuk kedua kaliya
dan bertindak salah untuk pertama kalinya, kira-kira demikian anda bertindak
sekarang (Frankl, dalam Schultz, D.,1991). Jika anda takut mengambil resiko
anda tidak akan kemana-mana (F. Nietzsche).Suatu kehidupan penuh arti
ditentukan oleh kualitasnya, bukan oleh usia yang panjang (Frankl dalam
Schultz, D.,1991).
Lanjutan
dari PRIMUM VIVERE, DEINE PHILOSOPHARI. Artinya, dia sanggup tampil di atas
kondisi-kondisi biologis, psikologis, sosiologis untuk melampaui dirinya,
membentuk karakter dan nasibnya sendiri, serta merealisasikan nilai-nilai,
pemenuhan magna konkret dari keberadaan pribadinya. Melalui 3 cara memberi arti
pada kehidupan: (1) dengan sikap yang kita ambil terhadap penderitaan, (2)
dengan sesuatu yang kita ambil dari dunia melalui pengalaman, (3) Dengan
memberi pada dunia lewat suatu ciptaan.
Lanjutan
dari PRIMUM.......................... Ada 3 sistem nilai fundamental
berhubungan dengan 3 cara memberi arti pada kehidupan yaitu: nilai-nilai sikap
(Attitudinal values), nilai-nilai pengalaman (Experiential Values), nilai-nilai
daya cipta (Creative Values). Attitudinal Values berkaitan dengan sikap
terhadap penderitaan, antara lain: keuletan, kesabaran, dan efektifitas diri.
Experiential Values berhubugan dengan sesuatu yang kita ambil dari dunia dalam
pengalaman misalnya: kebahagiaan, kegembiraan,
cinta, keindahan, keadilan dan kebenaran. Creative Value berkorelasi dengan
memberi kepada dunia lewat suatu ciptaan, berupa: kreatif, produktif, ketekunan
dan cinta. Ketiga nilai dasar ini dapat ditemui melalui realisasi nilai-nilai
yang berasal dari filsafat hidup yang sekuler dan agama (Frankl, V., dlm.
Fabri, J., 1968, dan Koeswara, E.,1992). Berikut ini adalah nilai-nilai
humanistik pada orang yang teraktualisasi diri: kebenaran, kebaikan, keindahan,
individualitas, kesempurnaan, kepenuhan, keadilan, keteraturan, dan
kesederhanaan (Maslow, A. dlm. Goble, F.G.,1987). Sedangkan nilai-nilai
keagamaan pada seorang universalier: cinta kasih inklusif, keadilan universal,
penghargaan dan persatuan, kesederhanaan, ketulusan hati, transparansi,
kepolosan, dan kenosis (Fowler, J.W., dlm. Cremers, A.,1995).
Lanjutan
dari PRIMUM VIVERE,...................Di bawah ini adalah kisah hidup tentang
seorang yang bernama Origenes (nama samaran). Origenes berjuang dari tekanan
hidup, panderitaan yang ia alami sejak masa kanak-kanak. Ketika itu pada umur
kira-kira 2 tahun Origenes pernah di siram dengan air panas. Akibatnya alat
kelamin dan sekitarnya "melepoh" (seperti luka bakar). Hal ini
terjadi karena kelahirannya tidak begitu diterima. Ia berasal dari perkawinan
dua suku yang berbeda. Ia mengetahui kejadian ini ketika berumur 6 tahun.
Ketika itu Origenes berusaha menghilangkan bekas luka di pahanya. Ia mengira
tanda luka itu "gogohiah" (penyakit panu). Sebelumnya temannya pernah
mengejeknya terkena penyakit panu. Setiap kali mandi ia berusaha menghilangkan
bekas luka itu. Ia megosok-gosook pahanya sampai kemerahan. Lalu ibunya
mengatakan bahwa " itu bukan panu melainkan bekas luka terkena air panas
ketika masih kecil (bayi). Bekas uka itu sekarang masih terlihat namun sudah
memudar karena kejadiannya berapa puluh tahun lalu. Alat kelamin sudah berubah
ukurannya. Pada umur 3 tahun dada Origenes pernah berkali-kali ditendang oleh
seorang pemuda sehingga mulutnya mengeluarkan darah. Setelah berumur 4 tahun
Origenes yang berjenis kelamin laki-laki, mendapat pelecehan seksual dari
seorang wanita yang masih saudara kandung dengan pemuda yang menendang dadanya.
Ketika berumur 5 tahun Origenes pernah jatuh dari gerobak sapi (roda),
kepalanya terbentur di jalan aspal dan pingsan. Saat Origenes mulai siuman ada
seorang pemuda menendang dadanya hingga ia pingsan kembali. Menurut cerita
Origenes ketahui, kecelakaan yang dialaminya direncanakan oleh orang-orang yang
tidak suka dengan perkawinan pamannya karena akan menikah dengan suku lain.
Bapak Origenes ketika itu mengendarai roda, pada saat yang sama Origenes sedang
bermain di pinggir jalan raya. Melihat bapaknya, ia kemudian berlari ke arah
gerobak yang berjalan cepat dan berusaha untuk naik. Ketika ia memegang papan
bagian belakang, ia jatuh dan kepalanya terpental di aspal. Di Sekolah dasar
Origenes sengaja dibuat untuk menjadi kurang percaya diri. Origenes sebenarnya
orang yang cukup cerdas. Ia menjadi korban karena dalam keluarganya tidak boleh
ada orang yang berpendidkan tinggi. Oleh karena itu Origenes sengaja dibentuk
menjadi pribadi yang pemalu atau minder. Ia tidak boleh memiliki suara yang
baik dalam bernyanyi atau tampil di depan umum. Ketika di sekolah menengah
pertama (SMP), Origenes beberapa kali keracunan makanan. Makanannya diracuni. Ia
pernah sakit di sekolah karena keracunan lalu berjalan kaki pulang rumah sejauh
kira-kira 1,4 KM. Saat dibawah ke mantri, ia diberi obat KB. Akibatnya Origenes
merasa mual dan mutah berwarna kuning. Hal ini dilakukan agar Origenes tidak
berprestasi. di sekolah. Ketika kelas 2 SMP, ia pernah mendapat rengking 1,
namun nilai total di rapor dikurangi sehingga rengkingnya turun. Di sekolah
mengah atas (SMA) ada pengalaman yang membuat Origenes nyaris kehilangan nyawa.
Origenes pernah dijadikan subjek penelitian oleh orang asing yang berasal dari
asia. Hal ini tidak diketahui olehnya. Origenes yang berkulit gelap akan
dirubah oleh orang asing itu menjadi kulit kuning. Lalu makanannya diberi bahan
kimia atau obat. Kemudian Origenes mengalami demam tinggi, tubuhnya menjadi
kurus sekali dan kulit berubah menjadi kuning. Penderitaan berlangsung kurang
lebih 1 bulan. Kejadiannya saat libur kenaikan kelas. Ia sengaja dijadikan
objek penelitian atas seijin tokoh-tokoh adat karena mereka akan mendapatkan
uang kompensasi dan pendidikan Origenes terganggu. Origenes sebenarnya ingin
memiliki pendidikan yang baik dan tinggi. Cita-cita ingin menjadi polisi atau
tentara, setelah lulus SMA. Ternyata ia tidak mungkin menjadi polisi. tinggi
badannya tidak memenuhi syarat. Lalu ia ingin menjadi tentara, tetapi ibunya
tidak mengijinkannya. Origenes kemudian berkeinginan belajar filsafat dan
menjadi imam (pastor). Hal ini menimbulkan kemarahan dari pihak keluarga dan
beberapa tokoh adat. Mereka tidak menyukai Origenes memiliki pendidikan yang
baik. Ketika ia masuk seminari untuk menjadi imam, Origenes mengalami berbagai
tantangan. Ia pernah diracuni oleh ibunya, saat makan di rumah makan. Kemudian
kepala Origenes terasa sakit. Hal ini dilakukan oleh ibunya atas suruhan dari
keluarga dan tokoh-tokoh adat. Selain itu lembar jawaban soal ujian matakuliah
penentu kelulusan nama ditukar oleh orang lain. Akhirn ya Origenes dapat
melanjutkan pendidikan di pulau jawa. Di tempat ini Origenes belajar
spiritualitas, kepribadian, dan hidup religius selama 1 tahun. Akan tetapi ia
gagal dan tidak bisa lan jut studi filsafat dan teologi program sarjana.
Alasannya Origenes tidak mampu belajar filsafat dan teologi. Lalu Origenes
pulang kampug. Ia kemudian bekerja di supermarket di kota propinsi. Saat bekerja
ia pernah diracuni sehingga menderita diare. tubuhnya menjadi pucat dan lemah.
Setelah sembuh dan bekerja lagi, Orgenes masih memiliki keinginan belajar di
perguruan tinggi. Ia masuk sebuah organisasi untuk menjadi biarawan. Kemudian
belajar psikologi di kota di pulau jawa. Saat kuliah Origenes mengalami tekanan
yang cukup berat. Ia pernah diracuni, diberi obat pelemah syaraf, dan narkoba.
Narkoba diberi pada makanannya tanpa ia ketahui ketika masa-masa akhir tahun
kuliah. Ini dilakukan karena ia akan dipekerjakan di tempat reabilitas pecandu
narkoba. Akan tetapi Origenes tidak menyerah dan selesai studi dengan hasil
yang sangat baik. Ia juga orang pertama lulus dari angkatannya yang berjumlah
kurang lebi 150 orang. Selepas dari kuliah Origenes bekerja di tempat
reabilitasi pecandu narkoba. Ia kemudian mengundurkan diri dari tempat kerja
dan sebagai biarawan. ia merasa tidak cocok dengan sistem yang ada karena ia
akan dikorbankan. Kemudian Origenes bekerja di berbagai tempat. Ia pernah
bekerja di pabrik (HRD), bank, sekertaris, dosen dan peneliti. Ia
berpindah-pendah kerja karena tekanan hidup yang berat. Ia pernah diracuni
dengan racun tikus, sehingga ketika buang air besar kotorannya bercampur darah.
Ketika sakit infusnya pernah diberi kencing manusia sampai tidurnya mendengkur,
dan narkoba yang tidak diketahuinya. Secara sosiologis ia pernah difitnah
melakukan pemerkosaan, sodomi, perselingkuhan, homo seksual dan praktek
prostitusi. Lalu Origenes mencari jawaban dari semua penderitaan, tekanan hidup
yang dialaminya. Pertama-tama Origenes mengumpulkan semua informasi yang ia
peroleh. Informasi-informasi itu diperoleh dari kehidupan sebelumnya terutama
saat bekerja dan kuliah. Hal pertama yang mencolok dari semua informasi yang
ada, iasejak kecil akan dikorbankan untuk mendapatkan dana warisan (adat) atau
hibah. Siapa yang menerima dana itu anggota keluarganya harus ada yang
dikorbankan atau terjadi perceraian. Ayah dan ibunya pernah pisah ranjang
ketika ia berada di kelas 6 SD. Hal yang kedua ketika Origenes menjadi calon
biarawan sudah menjadi objek penelitian tentang bertahan dalam penderitaan. Dia
dikategorikan kelompok A (Kel. eksperimen) sebagai subjek yang menerima
treatmen bagaimana bertahan dalam penderitaan atau mengatasi ketidak berdayaan
(origenes tidak mengetahui hal ini). Yang kemudian oleh peneliti yang lain
dikategorikan kelompok B, subjek yang dibuat tidak berdaya dengan sejumlah
treatmen, misalnya: fitnah, diracuni, pemberian narkoba, dan ancaman
pembunuhan. Saudaranya berkali-kali hampir memotongnya dengan pedang. Treatmen
ini bisa sampai pada kematian. Uang kompensasi sebagai subjek penelitian
diambil oleh tokoh agama, adat, dan masyarakat. dan teman kerjanya. Konon uang
itu sebagian berasal dari dana warisan adat atau hibah. Mereka mengambil uang
itu untuk penelitian, Origenes akan dijadikan korban.Tetapi disisi lain ia
secara adat berhak mendapat uang warisan itu jumlah mencapai ratusan miliar.
Alasannya ia sudah menjadi sarjana, secara adat tidak boleh. Ia juga pernah
masuk sebagai nominasi penerima penghargaan internasional dengan 2 peneliti
tadi. Prestasi dan keberhasilannya digunakan untuk mencairkan dana warisan adat
itu. 2 peneliti yang berasal dari eropa yang sudah WNI saling bersaing
mendapatkan penghargaan itu. Berada di bawah bayang-bayang kedua peneliti itu
bersama tim mereka, Origenes mendapat tekanan, penderitaan. Ia juga akan
dijadikan orang yang bertanggungjawab atas segala kejadian yang menimpa subjek
lain berupa kematian, perceraian dan penderitaan lainnya. Disamping itu identitas
Origenes dipertukarkan denga orang lain,sehingga ia tidak pernah menerima dana
kompensasi sebagai subjek dan dana warisan adat atau hibah. Dana itu kabarnya
sudah diambil oleh orang dari berbagai macam profesi, misalnya: guru, polisi,
tentara, banker, tokoh agama, politisi, tokoh adat atau masyarakat, PNS dan
lain-lain. Hal ketiga, organisasi yang pernah ia masuk menjadi biarawan juga
menerima dana warisan adat atau hibah. Kemudian Origenes akan dikorbankan.
Siapa yang paling lemah, bercelah (hukum, hidup sosial, budaya) akan
dikorbankan. Entah ia masih anggota atau sudah bukan anggota, terlebih mereka
yang menerima dana itu. Origenes dituduh menerima dana itu, padahal orang lain
yang melakukannya. Saat ini ia berusaha bertahan hidup dan melakukan apa yang
bisa ia lakukan. Nama Origenes yang menjadi nama samaran dalam cerita ini
diambil dari buku yang berjudul Psikopatologi dalam kehidupan sehari-hari,
ditulis oleh Sigmund Freud, terbitan Pedati. 19 Nov 2017.
Lanjutan dari PRIMUM VIVERE...............,Indikator-indikator
orang yang memiliki makna hidup. 1. Memiliki kebebasan menentukan diri sendiri.
2. Bertanggungjawab. 3. Menemukan arti kehidupan. 4. Secara sadar mengontrol
kehidupan sendiri. 5. mampu mengungkapkan nilai-nilai sikap, pengalaman dan daya
cipta. 6. mengatasi atau kontrol diri.
Lanjutan dari
PRIMUM VIVERE, DEINDE PHILOSOPHARI. Tingkat Kebermanaan Hidup. 6 tingkat
kebermaknaan hidup ini diukur dari 2 hal yaitu: kedalaman dan luasnya.
Kedalaman memiliki arti intensitas, kekuatan seluruh totalitas yang dialami
individu. Contohnya pengalaman yang terdapat pada seorang pemuda yag mengalami
pengalaman estetis ketika memperhatikan pertunjukkan suatu simponi yang
disukainya (Frankl, dalm. Schultz, D.,1991). Luasnya, menunjuk pada pengaruh
positif pada orang lain, semakin luas cakupannya, semakin bermakna hidupnya.
Contohnya dapat dilihat pada seorang pemimpin atau negarawan yang
menandatangani keputusan yang mensejahterakan rakyat dari segala lapisan
masyarakat. Bandingkan hal ini dengan apa yang pernah ditulis oleh Frankl,
(1968) dalam Koeswara (1992) yang berbunyi sebagai berikut: "Rakyat kecil
atau kebanyakan orang yang secara sungguh-sungguh dan jujur menjalankan tugas
konkretnya yang memungkinkan dirinya dan keluarganya hidup, terlepas dari fakta
bahwa kehidupan itu "kecil" lebih besar dan lebih unggul dibandingkan
dengan seorang negarawan "besar" yang menentukan nasib banyak orang
dengan goresan penanya, tetapi yang putusan-putusannya ceroboh dan membawa
akibat buruk:" 6 Tingkat Kebermaknaan Hidup. (1) Fisiologis. Makna hidup
diukur dengan tercapainya aspek-aspek fisiologis dalam kehidupan. Aspek-aspek
fisiologis itu dapat berupa: sandang, pangan, papan, benda berharga, harta
kekayaan (rumah, tanah, mobil, dll.), uang dan seks. Misalnya hidup akan begitu
bermakna ketika makan makanan yang sangat lezat dan bergengsi. Seperti syair
sebuah lagu yang menceritakan seseorang yang sangat terkesan dengan makanan
rendang. Seandainya rendang itu manusia, ia akan menikahinya. Pada tahap ini
nilai-nilai dasar berfungsi sebagai instrumen untuk memenuhi atau memperooleh
aspek-aspek fisiologis. Bisa jadi seorang pekerja sosial lebih bermakna
hidupnya dari pada seorang tokoh agama yang memperkaya diri dan keluarganya
dengan menggunakan predikaynya, dan melawan hukum. Tingkat ke-2. Relasi. Relasi
menjadi tolok ukur suatu keberhasilan hidup. Dalamnya sebuah relasi terjadi
melalui komunikasi. Kedalaman hubungan terjadi pada komunikasi itu sendiri.
John Powell (dlm. CLC, 1985, dan supratiknya, A., 1995) membedakan komunikasi
dalam 5 taraf. Taraf ke-5, basa-basi. Taraf ini merupakan komunikasi yang masih
dangkal. Contohnya dua orang bertemu secara kebetulan di jalan lalu saling
menyapa. Taraf ke-4, membicarakan orang lain. Mulai dengan saling menanggapi
antara kedua belah pihak tentang apa yang dikatakan, namun masih sebatas
membicarakan orang lain. Pada taraf ini masih Ngrumpi. Taraf ke-3, menyatakan
gagasan dan pendapat. Adanya saling mengungkapkan diri namun masih sebatas
taraf pikiran. Taraf ke-2, hati dan perasaan. Hubungan melibatkan perasaan dan
hati. Misalnya hubungan antara orang tua dan anak. Taraf ke-1, hubungan puncak.
Hubungan pada taraf ini ditandai dengan kejujuran, keterbukaan, saling percaya,
dan adanya kesatuan, perasaan timbal -balik yang hampir sempurna. Hubunga
puncak ini terjadi antara 2 orang yang saling mempercayai misalnya,
suami-istri, atau antara seorang pemimpin dan bawahannya yang sudah sangat
dipercaya karena menjaga rahasia perusahan dan organisasi. Contoh orang pada
tingkat ini, hidup akan terasa bermakna ketika menikah dengan pujaan hati.
Tingkat ke-3, Pengetahuan. Kedalaman makna terlihat pada tingkat ini nampak
pada nilai kuantitatif. Misalnya, predikat kelulusan pada seorang sarjana (S1)
atau peringkat tertinggi kelulusan. Untuk luas cakupan mengikuti jenjang luas
area. Orang yang memiliki peringkat tertingi kelulusan secara nasional akan
terasa berarti hidupnya dibandingkan dengan juara 1 tingkat kabupaten, apalagi
sudah masuk pada level internasional. Pengertian pengetahuan pada tahap ini
mengcakup ilmu sosial, eksak, teknologi dan keterampilan. Tingkat 4, Kerja.
Dengan bekerja orang akan merasa hidupnya bermakna. Kedalamannya terletak pada
kesungguhan , kreatifitas dan keunikan (indikator empiris). Sedangkan luasnya
berhubungan dengan kegunaan dan pengaruh positif pada orang lain. Tingkat 5,
Penghargaan. Penghargaan diperoleh karena hasil kerja, atau prestasi yag telah
memenuhi syarat dengan kriteria tertentu. Akan terasa sangat bermakna hidup
seseorang ketika ia mendapatkan penghargaaan dari hasil usahanya terhadap
pekerjaan yang memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi serta bermanfaat
bagi banyak orang. Tingkat 6, Nilai. 3 nilai dasar yang sebelumnya berfungsi
sebagi instrumen untuk mencapai tingkat 5, kini menjadi nilai Terminal dan
Standar. Nilai Terminal merupakan keberadaan akhir yang menjadi tujuan perilaku
manusia. Nilai sebagai Standar berfungsi mengarahkan individu dalam posisi
tertentu pada suatu masalah sosial dan mengpengaruhi individu untuk menentukan
pilihan. Keberhasilan dalam hidup berupa prestasi, dapat menjadi suatu
pengalaman yang menyemangati, menglhami kehidupan selanjutnya. Begitu juga
dengan keberhasilan ketika kita mengadapi kesulitan-kesulitan hidup. Hal ini
dapat menjadi kebanggaan diri yang daat menjadi tolok ukur utuk momen atau
kehidupan selanjutn ya. jika anda mau melihat tingkat kebermaknaan hidup, anda
dapat membuat sebuah grafik Polygon atau Histogram. Pada sumbu Y yang berbentuk
garis vertikal, anda menulis 6 tingkat kebermaknaan hidup, dengan jarak setiap
tingkat misalya 5 CM. Pada sumbu X, garis horisontal, anda menulis setiap
periode kehidupan. Perioode bisa dalam ukuran waktu (misalnya setiap 5 tahun).
Selain itu periode dapat berupa tahapan kehidupan misalnya: masa kanak-kanak,
anak, remaja awal (13-15 tahun), remaja tengah (15-18 tahun), remaja akhir
(18-21 tahun), masa dewasa awal (usia 20-an sampai 30-an), dewasa tengah
(kira-kira usia antara 35 dan 45 tahun dan berakhir pada usia 55-65 tahun),
dewasa akhir berlangsung dari kira-kira usia 60-70 tahun sampai kematian.
Dengan demikian akan terlihat pada periode mana tingkat kebermaknaan hidup anda
paling tinggi. Hasil ini dapat menjadi motivasi hidup ketika berada pada titik
jenuh, kebosanan dan kegagalan dalam hidup. Selain itu akan terlihat sejauh
mana kualitas hidup.
Lanjutan dari
PRIMUM VIVERE, DEINDE PHILOSOPHARI. Jika ingin melihat kebermaknaan hidup lebih
detil lagi, anda dapat membuat setiap tingkat menjadi satu grafik. Misalnya
pada grafik tingkat kebermaknaan fisiologis, sumbu Y diberi 3 tingkatan yaitu:
Tinggi, Sangat Tinggi, Excellent. Pada sumbu X terdapat periode lima tahun atau
tahapan kehidupan yang terasa begitu bermakna karena mendapat harta kekayaan
yang banyak. kemudian anda pilih pada tingkatan mana itu begitu terasa. Apakah
tingkatan Tinggi (T) ? Sangat Tinggi (ST) ?atau Excellent (E)? Untuk
visualisasinya akan nampak suatu titik pada persilangan antara sumbu X, dan Y.
Jika terdapat beberapa periode akan tampak beberapa titik, kemudian buat garis
penghubung. Pada kebermaknaan mendapatkan harta yang banyak (uang) akan
mengpengaruhi perilaku individu. Ketiga tingkatan berarti sebagai berikut, T:
suka berbelanja, berinfestasi pada jumlah yang kecil, membangun rumah
sederhana, membeli kendaran (sepeda motor). ST: Berinfestasi pada tingkatan
yang cukup besar, membeli asuransi, jalan-jalan skala nasional, membeli
perumahan dan mobil. E: memiliki saham, mobil mewah, rumah atau perumaham
mewah, perusahan, pesawat pribadi, jalan-jalan ke luar negri. Kebermaknaan
hidup pada tiga pilihan di atas dapat terjadi melalui suatu perjuangan hidup,
penderitaan, pengorbanan, dan kreativitas. Beri tanda hitam pada periode
tersebut berupa garis di atas sumbu X (garis nyaris berlapis dengan sumbu X),
dan tanda kuning di ujung. Baiklah untuk menjadi patokan selanjutnya pada
pembuatan 5 grafik, jika sampai pada tingkat 6. Secara umum pilihan pada 3 tiga
pilihan berarti sebagai berikut; T: taraf perasaan, senang, pengertian, ST:
gembira, senang, bahagia, adanya pemahaman, pengertian. Orang pada taraf ini
bertipe Being-peaker (B-Peaker). E: Pengalaman puncak, persaan terpesona yang
hebat dan meluap-luap, kebahagiaan, pengalaman keagamaan yang mendalam atau
ekstase, orgasme, pencerahan dan penemu-penemu. orang pada tahap ini disebut
Metapeaker. Pada grafik Relasi; T: menyatakan gagasan dan pendapat (taraf 3),
ST: hati ddan perasaan (taraf 2), E: hubugan puncak (taraf 1). Grafik
Pengetahuan; T: memiliki nilai hasil studi yang tinggi, ST: lulus degan
predikat terbaik, menghasilkan karya tulis yang bernilai tinggi, ahli ilmu
pengetahuan. E: menemukan sesuatu yang baru dan bermanfaat bagi banyak orang,
mengalami pencerahan, jenius. Grafik kerja; T: hasil kerja yang baik, mencapai
target, menunjukan kinerja atau peformansi kerja yang tinggi. ST: membuat
perusahan tumbuh dan berkembang, misalnya perusahan berskala daerah menjadi
nasional, Perseroan Terbatas tertutup menjadi terbuka, usaha menengah menjadi
besar. E: menduduki puncak kepemimpinan perusahan /organisasi berkelas dunia
(wahid), kepala negara, dan sumber dayanya langka, sulit ditiru, tidak mudah
digantikan ("indikator empiris"). Grafik Penghargaan. Menerima
penghargaan tigkat nasional, jabatan dalam pekerjaan merupakan penghargaan dari
prestasi sebelumnya. ST: Menerima penghargaan internasional misalnya, menang medali
emas olimpiade, penghargaan dari profesional berkelas dunia, ahli ilmu
pengetahuan, penemu. E: menerima penghargaan internasional yang sulit diraih
misalnya, Matteo Ricci Award dan Nobel. Grafik Nilai. T: Pemimpin organisasi
atau karya sosial. ST: pengalaman ekstase, hidup terfokus pada pengabdian
sosial. E: mengalami pengalaman mistik, ekstase, saleh, pemimpin gerakan
sosial, agama yang menginspirasi banyak orang. Setelah membuat 6 grafik (jika
sampai grafik 6) tentang tingkatan kebermaknaan hidup, kemudian membuat satu
grafik sebagai rangkuman. Grafik rangkuman berisi pengalaman-pengalaman hidup
paling bermakna. Jadi anda dapat memilih satu atau lebih pengalaman bermakna
pada setiap tingkat, kemudian menjadi satu dalam grafik rangkuman. Maka akan terlihat
pengalaman-pengalaman paling berkesan dan bermakna sepanjang rentang kehidupan,
sampai saat ini. "Sama seperti tingginya suatu deretan pegunungan tidak
dilukiskan dengan permukaan lembah-lembah melainkan oleh puncak yang tertinggi,
demikian juga kita melukiskan kepenuhan arti dari suatu kehidupan oleh
puncaknya bukan oleh lembah-lembahnya. ........................satu momen
puncak dari pengalaman dapat mengisi seluruh kehidupan seseorang dengan
arti" (Frankl, dalam Schultz, D., 1991).
Lanjutan dari PRIMUM VIVERE, DEINDE PHILOSOPHARI. Faktor-faktor yang memengaruhi kebermaknaan hidup:
1. Pendidikan
2. Pola asuh
3. Konsep diri
4. Locus of Control
5. Intelligence Quotient
6. Nutrisi
7. Olahraga
Daftar Pustaka
Cremers, A.(1995). Tahap-tahap perkembangan kepercayaan menurut James W. Fowler: sebuah gagasan baru dalam psikologi agama.Supratiknya, A.(Ed.).Yogyakarta:Kanisus
Cremers, A.(1995). Tahap-tahap perkembangan kepercayaan menurut James W. Fowler: sebuah gagasan baru dalam psikologi agama.Supratiknya, A.(Ed.).Yogyakarta:Kanisus
Freud, S. (2005).
Psikopatologi dalam kehidupan sehari-hari. Saruri,
M.(Penerjemah).Santoso,A.(Penyunting).Pasuruan:Penerbit Pedati.
Koeswara,
E.(1992).Logoterapi: psikoterapi Viktor Frankl. Yogyakarta:Kanisius.
Goble, F.G.
(1987).Mazhab ketiga: psikologi humanistik Abraham Maslow. Supratiknya,
A.(penerjemah).Yogyakarta:Kanisius.
Powell,
J.(1999).Mengapa takut bersikap terbuka. Staff CLC (penerjemah). Jakarta: Cipta
Loka Caraka.
Schultz, D.(1991).
Psikologi pertumbuhan: model-model kepribadian sehat. Yustinus,
OFM.(Penerjemah).Yogyakarta:Kanisius
Stoltz,
P.G.(2000).Adversity quotient: mengubah hambatan menjadi
peluang.Hennaya,T.(Ahlih bahasa).Hardiwati,Y.(Ed.).Jakarta:PT Gramedia.
Supratiknya,
A.(1995). Komunikasi antarpribadi: tinjauwan psikologis.Yogyakarta:Kanisius.
Catatan:
Kisah hidup tentang Origenes yang disajikan dalm tulisan sebelumnya merupakan sebagian pengalaman hidup penulis sendiri. Pengalaman-pengalaan itu diambil dari data penelitian tentang studi kasus dengan pendekatan Longitudinal, yang dibuat penulis. Data yang cukup lengkap sementara digarap dalam bentuk buku semi otobiografi.
Kisah hidup tentang Origenes yang disajikan dalm tulisan sebelumnya merupakan sebagian pengalaman hidup penulis sendiri. Pengalaman-pengalaan itu diambil dari data penelitian tentang studi kasus dengan pendekatan Longitudinal, yang dibuat penulis. Data yang cukup lengkap sementara digarap dalam bentuk buku semi otobiografi.
Komentar
Posting Komentar